Pertanyaan:
Bolehkah salat sunnah selain salat tarowih/witir pada bulan Ramadan –seperti salat dhuha atau yang lain – dilakukan dengan berjamaah?
Jawaban:
Boleh tetapi kadang bisa menjadi haram yang harus dicegah. Ini berdasarkan kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 67:
مَسْئَلَةْ ك) تُبَاحُ الجَمَاعَةُ فِى النَحْوِ الوِتْرِ وَالتَسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِى ذَلِكَ وَلاَ ثَوَابَ. نَعَمْ إنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ المُصَلِّيْنَ وَتَحْرِيْضُهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَايُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَاتِ الحَسَنَةِ فَكَماَ يُبَاحُ الجَهْرُ فِى مَوْضِعِ الإِسْرَارِ الَّذِى هُوَ مَكْرُوهٌ لِلْتَّعْلِيْمِ فَأوْلاَ مَا أصْلُهُ الإبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِى المُبَاحَاتِ إذَا قُصِدَ بِهَا القُرْبَةُ كَالتَّقَوِّى بِالأكْلِ عَلَى الطَّاعَة هَذَا إذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُورٌ كَنَحْوِ إذَاءٍ او اعْتِقَادِ العَامَّةِ مَشْرُوعِيَّةَ الجَمَاعَةِ وَإِلاَّ فَلاَ ثَوَابَ بَلْ يَحْرُمُ وَ يُمْنَعُ مِنْهَا.
(Masalah Kaf). Diperbolehkan berjamaah dalam semisal salat witir dan salat tasbih. Sama sekali tidak ada kemakruhan dalam hal itu, namun sama sekali tidak ada pahalanya. Benar jika dimaksudkan untuk mengajar orang-orang yang salat dan memberi anjuran kepada mereka, maka pengajaran atau penganjuran itulah yang mempunyai pahala dan tiap-tiap pahala yang disebabkan niat yang baik, sebagaimana “diperbolehkan” mengeraskan suara pada tempat perlahan yang hukumnya makruh “untuk mengajar”, maka yang lebih utama diperbolehkan adalah apa yang asalnya boleh. Sebagaimana diberi pahala perkerjaan-pekerjaan yang mudah apabila dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti mencari kekuatan untuk tha’at dengan makan. Ini apabila hal itu tidak berhubungan dengan hal yang dihindari, seperti mengganggu orang lain atau i’tikad orang awam terhadap disyari’atkannya berjamaah. Jika tidak demikian, maka sama sekali tidak ada pahalanya, bahkan menjadi haram dan dilarang melakukan jamaah tersebut.
(Masalah Kaf). Diperbolehkan berjamaah dalam semisal salat witir dan salat tasbih. Sama sekali tidak ada kemakruhan dalam hal itu, namun sama sekali tidak ada pahalanya. Benar jika dimaksudkan untuk mengajar orang-orang yang salat dan memberi anjuran kepada mereka, maka pengajaran atau penganjuran itulah yang mempunyai pahala dan tiap-tiap pahala yang disebabkan niat yang baik, sebagaimana “diperbolehkan” mengeraskan suara pada tempat perlahan yang hukumnya makruh “untuk mengajar”, maka yang lebih utama diperbolehkan adalah apa yang asalnya boleh. Sebagaimana diberi pahala perkerjaan-pekerjaan yang mudah apabila dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti mencari kekuatan untuk tha’at dengan makan. Ini apabila hal itu tidak berhubungan dengan hal yang dihindari, seperti mengganggu orang lain atau i’tikad orang awam terhadap disyari’atkannya berjamaah. Jika tidak demikian, maka sama sekali tidak ada pahalanya, bahkan menjadi haram dan dilarang melakukan jamaah tersebut.